Bangkit Dari Kegagalan

logo-pemuda-mtaKehidupan manusia ibarat sebuah roda yang selalu berputar.  Semangat hidup adalah sama dengan kekuatan dalam memutarkan roda tersebut. Sisi dibawah terkadang berpindah diposisi atas, itulah layaknya sebuah harmoni. Terkadang gagal atau tidak mengenakkan hati yakni dibawah, dan pasti juga suatu saat diatas menikmati kebahagiaan. Dan pada saatnya roda tersebut akan sampai menuju tempat tertentu sebagai sebuah cita-cita hidup.

Begitulah manusia hidup, butuh waktu, punya semangat, dan kadangkala mengalami kegagalan dalam menggapai cita-citanya. Tidak ada kesuksesan hidup yang digapai secara instan.

Merumuskan cita-cita kebahagiaan hidup adalah sangat penting. Karena manusia sering lupa bahwa kebahagiaan itu tidaklah hanya didunia. Tapi keabadian di akherat. Idealnya adalah mendapatkan keduanya. Semestinya seperti harapan yang sering kita baca sehari-hari :

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”[127].

[127] Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.

Dan kebahagiaan itu tidak harus mempunyai kekuasaan, bergelimang harta ataupun terhormatnya keturunan. Kebahagiaan letaknya di hati dan hati yang baik (qolbun salim) akan memberikan respon kebahagiaan yang sebenarnya kepada pemiliknya.

Untuk menggapai cita-cita, tujuan, atau harapan dalam hidupnya manusia senantiasa diwajibkan berusaha (ikhtiar). Agar usahanya terasa maksimal, dibuatlah berbagai program, target, atau langkah-langkah yang ditempuh. Namun kenyataan hidup didunia mengajarkan, apa yang dilakukan kadangkala tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Usaha tidak sebanding dengan hasil yang diinginkan. Rencana dan target kehidupan, hasilnya jauh diluar perkiraan. Inilah yang kita sebut dengan satu kata: kegagalan

Kegagalan adalah bukti bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Manusia hanya wajib berusaha tetapi tidak wajib untuk berhasil. Manusia boleh berencana, namun garis (takdir) kehidupan telah punya rencananya sendiri. Di sini, kegagalan dalam hidup mengajarkan satu hal kepada kita, bahwa kita manusia adalah makhluk yang jauh dari kesempurnaan. Yang sempurna hanyalah pemilik diri dan jiwa manusia, dialah Allah SWT.

Di saat kegagalan sebagai akhir dari usaha yang didapatkan, suasana yang menyelimuti diri adalah resah, kecewa, bahkan putus asa. Kondisi saat itu memerlukan tempat kita bersandar, nasihat yang memotivasi, dan kekuatan untuk bangkit kembali. Sehingga harapan-harapan baru muncul sebagai pemantik potensi yang kembali melahirkan aksi. Disinilah rekonstruksi visi sangat penting sekali. Visi hidup, terutama sebagai Muslim sejati, tidak terbatas di dunia ini tapi jauh menembus kehidupan ukhrawi.

Muslim sejati akan bangkit kembali, menjauhkan pikiran putus asa.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.(QS.12:87)

Jika keyakinan adanya kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini terpatri, sungguh tidak akan ada ruang bagi kita untuk berhenti berharap atau berputus asa. Karena pergantian waktu senantisa memberi nasihat, bahwa harapan masih ada jika nafas dan kesadaran masih ada. Berhenti berharap, larut dalam alunan keputus-asaan, adalah sebuah dosa dan bentuk mentalitas kekufuran .

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas RA., bahwa ada seorang lelaki yang berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?” Rasulullah saw. menjawab (artinya), ‘Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah’.” (HR.Al-Bazzar)

Kita boleh saja dan pasti pernah gagal tapi jangan pernah berlanjut menjadi “manusia gagal”. Selalulah Optimis sukses dan bahagia di Akherat dan di dunia. Amin (sumber)

Baca Juga Artikel Lainnya…

About these ads